Tuesday, February 25, 2020

Padang, Indonesia: City of Waterfalls and Dragonflies

Most people will never visit Padang, Indonesia, and that's fine by me. The city includes a diverse mix of accommodations, from the relatively upscale Grand Inna Padang Hotel and The Axana hotel to the mid-range French-owned ibis, plus several RedDoorz and homestays. Beaches with red sunsets and pink skies are common within the city and outside of it. 
There aren't many museums or awe-inspiring mosques, but the two-level Museum Adityawaran will delight any anthropology student or ethnographer, and Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat boasts a unique modern design. 
As for food, the region has some of the world's best cinnamon as well as two restaurant chains (Lamun Ombak and Malabar) serving traditional fare, including jumbo size shrimp/udang if it's your lucky day. 
Lamun Ombak Pasar Usang
Unfortunately, it's impossible to see the best of Padang without a car, and most unique attractions are 45 minutes to 3 hours away from the city center. GoJEK and Grab apps are great for shorter trips, but in smaller cities and for longer trips, SE Asia tourism currently lacks solutions other than pre-planned tour buses, which I consider the exclusive province of senior citizens and their flag-football-waving leaders. 

I visited four different waterfalls--called "Air Terjun" in Bahasa--all of which were the highlights of my trip, and all of which require a local guide to find. 

Let's start with Baburai Waterfall, the farthest one from Padang's city center. It took 2 hours of driving to reach the jungle reserve housing the waterfall, then an easy 40 minutes walking to the waterfall--as long as you know the way. Sturdy but uneven concrete steps lead down to the waterfall, which will make any tourist wonder why more people aren't visiting. (My guesses are ignorance and a lack of reputable local tour guides and drivers; after all, no one really wants to drive in any foreign country, especially if they've heard stories of corrupt police officers shaking down tourists for bribes.) In any case, this waterfall had a very strong current, so much so that I couldn't get closer than 15 feet. 
After months of complaining about other visitors leaving behind plastic bags, plastic bottles, and solitary sandals, I ended up losing one of my favorite sandals trying to swim closer to the waterfall, thus gaining insight into the reasons single sandals pollute nature reserves. 

Nearby Baburai Waterfall is Dua Bidadari Waterfall, which requires only a 30 minutes walk on a completely paved path to reach. I call this waterfall a "Mini-Madakaripura" because both waterfalls are similar, though of course the one nearby Padang is much smaller. 
Air Terjun Sarasah (aka Air Terjun Sarosah, Air Terjun Sarasah Gadut--but *not* Air Terjun Sarasah Kuau Rajo) was my favorite. Located one hour away from the city center, a 45 minutes walk on a mostly unpaved path delivered a beautiful waterfall allowing visitors to go directly underneath the source. 
It was here I lost my 20 USD Decathlon plastic glasses when I mistakenly went the wrong way down and ended up hugging a tree branch while trying to free my foot from the damp dirt resembling jungle quicksand. (If you see a monkey wearing blue-tinted sunglasses, tell him I want my sunglasses back.) 

The easiest waterfall to see is Lembah Anai Waterfall (aka Lembah Anai Air Mancur), located by the side of the road. When I visited, the water was freezing cold, so I could only go halfway to the waterfall, but if you dislike hiking and want to see a nice waterfall, this one might be your best bet. 
So there you have it. You won't find much exciting in Padang's city center, but one to two hours' away await some of the world's prettiest waterfalls. I'm no geologist, but I assume the reason Japan, Indonesia, and California suffer horrendous earthquakes and tsunamis is because continents were created when tectonic plates collided around Costa Rica and Indonesia, which is why they and their neighbors have incredibly unique scenery. For me, if there's heaven on earth, it has to be in an Indonesian waterfall surrounded by dragonflies and fast-moving butterflies. 
Come visit before everyone else discovers these "hidden" gems. 

© Matthew Mehdi Rafat (February 2020) 

Bonus: Some tourists don't visit Indonesia because they'd rather go to Australia or the flight (using Garuda Indonesia) is expensive. My suggestion is to fly into Singapore, stay one or two nights, eat the chicken rice, then take Air Asia from Singapore to Kuala Lumpur, Malaysia (KUL is a great airport), and then anywhere in Indonesia. You can also try Scoot Airlines, though I suggest using Air Asia if you are flying into Kuala Lumpur, even for a connecting flight. 

Note that I travel lightly and avoid checking luggage. For my Padang trip, I've worn one pair of pants, one cap, two pairs of underwear, one pair of socks, and two shirts for an entire week. I handwash everything each night in the sink with shower gel and soap.

_________________________________

Padang, Indonesia: Kota Air Terjun dan Capung-capung yang Anggun
 
Mungkin  akan ada banyak orang yang tidak memiliki kesempatan untuk bertandang dan mengunjungi kota Padang, ibu kota Sumatera Barat, salah satu kota yang cantik di Indonesia. Hal itu tidak menjadi masalah bagi Saya secara pribadi. 
 
Namun kunjungan Saya ke kota ini beberapa waktu yang lalu menggugah Saya untuk bercerita tentang beberapa hal yang mengesankan dan mempesona. Mari kita mulai perjalanannya. Padang sebagai sebuah ibu kota memiliki beragam akomodasi, mulai dari Hotel Grand Inna Padang dan  The Axana yang relatif mewah hingga hotel kelas menengah seperti Ibis – milik Perancis, ditambah beberapa RedDoorz dan homestay yang terjangkau. Pemandangan pantai dengan matahari terbenam berwarna merah dan semburat langit merah muda adalah hal yang sering dan biasa Anda akan temui di daerah ini. 
 
Sebagai seorang penggemar Museum, Saya menyayangkan bahwa tidak banyak Museum atau Arsitektural Masjid yang dapat Saya eksplorasi atau sampai membuat saya berdecak kagum. Tetapi Anda  jangan sampai melewatkan dua tempat berikut ini, Pertama adalah Museum Adityawarman; sebuah Museum dengan dua tingkat atau dua susun berjenjang, yang akan memuaskan banyak rasa penasaran para peneliti entnofrafi atau para pembelajar bidang antropologi, dan yang Kedua adalah Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat yang memanjakan mata dan menawarkan desain modern yang unik dibandingkan Masjid lain di area tersebut. 
 
Di sisi lain, Anda harus meluangkan waktu untuk menikmati lezatnya kuliner khas Padang yang amat memanjakan lidah. Tentu Anda pernah dengar atau membaca tentang Rendang, makanan yang dinobatkan sebagai makanan terlezat nomor satu di dunia, dari Padang-lah asal masakan lezat tersebut. Tidak dapat dipungkiri, masakan Padang memang terkenal dengan dominasi rempah-rempahnya yang beragam, dan berkualitas tinggi, sebab padang merupakan salah satu wilayah penghasil kayu manis terbaik di dunia. Di daerah ini juga terdapat dua jaringan Restoran yang ternama yaitu Lamun Ombak dan Malabar yang menyajikan masakan-masakan khas dan tradisional, dan jika Anda beruntung, pada Anda dating, Anda akan disuguhkan masakan dengan menu Udang yang berukuran jumbo. 
 
Sangat disayangkan bahwa Padang mustahil dinikmati keindahan dan keistimewaannya tanpa menggunakan mobil, di mana atraksi-atraksi dan lokasi pariwisata yang menarik berjarak sekitar 45 menit sampai tiga jam dari pusat kota. Aplikasi online seperti GoJek dan Grab merupakan pilihan terbaik untuk perjalanan dalam kota dengan jarak yang dekat.  Secara umum pariwisata di negara-negara Asia Tenggara terutama untuk perjalanan jarak jauh belum memiliki banyak alternatif pilihan atau solusi selain menggunakan bus pariwisata dengan perjalanan yang terencana, hal ini terkait juga dengan keberadaan dan kesempatan bagi para lansia yang ingin turut serta berwisata bersama-sama. Saya berkesempatan untuk mengunjungi empat Air Terjun yang berbeda di sana, keempatnya menjadi sorotan perjalanan Saya dan jika Anda juga ingin mengunjungi tempat yang sama, jangan lupa Anda membutuhkan pemandu lokal untuk menemukan lokasi Air Terjun tersebut. Saya akan mulai dengan Air Terjun “Baburai,” yang merupakan lokasi Air Terjun terjauh dari pusat kota Padang. Butuh waktu dua jam berkendara untuk mencapai hutan cagar alam hutan di mana air terjun Baburai terlindungi di dalamnya. Dengan kecepatan yang standard dan dengan catatan jika Anda tahu jalannya, Anda akan sampai ke sana dalam waktun tempuh sekitar 40 menit berjalan kaki. Tangga beton yang kokoh – meskipun tidak rata – dan pemandangan indah sepanjang perjalanan yang mengarah ke air terjun, membuat wisatawan bertanya-tanya mengapa tidak banyak orang yang berkunjung. Dugaan saya hal itu terjadi karena kenihilan informasi, kurangnya pemandu wisata, dan pengemudi lokal yang bereputasi baik; sementara para wisatawan terutama wisatawan mancanegara seperti Saya enggan mengemudi di negara asing. Kembali ke cerita tentang Baburai, air terjun ini memiliki arus yang sangat kuat, sehingga saya dan wisatawan lainnya dilarang untuk terlalu dekat dengan air terjun ini, berilah jarak diri Anda dengan air terjun sekitar 4.5meter.
 
Setelah berbulan-bulan mengeluh tentang pengunjung lain yang meninggalkan kantong plastik, botol plastik, dan sandal yang hanya sebelah, saya “beruntung” karena mengalami sendiri dan mendapatkan jawaban mengapa banyak sandal hanya sebelah yang tertinggal di sini, karena saya akhirnya juga kehilangan satu dari sandal favorit saya saat mencoba berenang lebih dekat ke air terjun, hal itu membuat saya mendapatkan  wawasan tentang alasan sandal tunggal mencemari cagar alam. Air Terjun lain yang jaraknya dekat dari Baburai adalah Air Terjun Dua Bidadari, membutuhkan waktu 30 menit berjalan kaki di jalan yang beraspal untuk mencapainya. Saya menyebut air terjun ini sebagai "Mini-Madakaripura" karena kedua air terjun ini mirip, meskipun tentu saja yang lebih dekat dengan pusat kota Padang jauh lebih kecil. 
 
Air Terjun “Sarasah” (atau Air Terjun Sarosah - Air Terjun Sarasah Gadut—tetapi bukan Air Terjun Sarasah Kuau Rajo) adalah favorit saya. Letaknya sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota, dan dibutuhkan 45 menit lagi berjalan kaki di jalan yang sebagian besar tidak beraspal. Jalan itu berujung pada air terjun yang indah dan memukau yang memungkinkan wisatawan untuk langsung berdiri di bawahnya dan menikmati siraman alami dari air terjun itu sendiri. 
 
Nah, selain tragedi hilangnya sandal saya yang sebelah, di sini juga saya kehilangan kacamata Decathlon (jika tidak salah ingat, harganya 20 USD atau setara dengan 283.000 IDR, bukan barang mewah, tetapi sangat bernilai bagi saya) ketika saya salah strategi untuk turun dari sebuah pohon dan akhirnya memeluk cabang pohon yg cukup jauh ketika mencoba membebaskan kaki saya dari kotoran basah yang menyerupai pasir hisap hutan. Jadi jika nanti Anda seekor monyet mengenakan kacamata hitam dengan frame berwarna biru, tolong sampaikan padanya bahwa saya ingin kacamata saya kembali. 
 
Air terjun selanjutnya adalah Air Terjun Lembah Anai (Air Mancur Lembah Anai), paling mudah dilihat sebab terletak di pinggir jalan. Ketika saya berkunjung, airnya sangat dingin, jadi saya hanya bisa pergi setengah jalan ke air terjun. Jika Anda tidak suka melakukan pendakian (hiking) tetapi tetap ingin melihat air terjun yang bagus, Air terjun Lembah Anai dapat menjadi pilihan terbaik bagi Anda. Di sinilah saya akhiri cerita perjalanan saya tentang kota Padang dan Air Terjun yang dimilikinya. Terus terang, Anda tidak akan menemukan banyak hal menarik di pusat kota Padang, tetapi satu sampai dua jam perjalanan dari sana, beberapa air terjun tercantik di dunia telah menunggu dengan tenang kunjungan Anda, dan saya bisa pastikan Anda akan terpesona serta mengagumi keindahannya. Saya bukanlah ahli geologi, tapi saya berasumsi bahwa negara-negara seperti Jepang, Indonesia, dan juga negara bagian California berulang kali mengalami gempa bumi dan tsunami yang mengerikan karena benuanya terbentuk ketika lempeng tektonik bertabrakan di sekitar Kosta Rika dan Indonesia, itulah sebabnya negara ini dan beberapa negara tetangga mereka memiliki pemandangan yang sangat unik dan fenomenal. Bagi saya, lokasi yang dapat disebut sebagai pecahan surga yang ada di dunia harus diberikan pada lokasi-lokasi air terjun di Indonesia yang amat memukau mata, mendamaikan hati, dan terkenang di jiwa, dengan suara air dan cantiknya kupu-kupu, serta para capung yang bergerak dengan anggunnya. 
 
Datang dan kunjungilah sebelum banyak orang lain ikut menemukan permata yang tersembunyi ini. 
 
© Matthew Mehdi Rafat (February 2020) 
 
Bonus: Beberapa turis tidak mengunjungi Indonesia karena mereka lebih memilih pergi ke Australia atau penerbangan dengan maskapai Garuda Indonesia harganya cukup mahal. Saran saya, terbanglah ke Singapura, menginaplah satu atau dua malam (jamgan lupa makan nasi ayam khas Singapura tentu saja), lalu naik Air Asia dari Singapura ke Kuala Lumpur, Malaysia (KUL adalah bandara yang bagus, lho!), dan kemudian Anda dapat memilih untuk terbang ke kota manapun di Indonesia dari Kuala Lumpur. Alternatif lain adalah Anda juga dapat mencoba Scoot Airlines, meskipun saya tetap sarankan untuk lebih baik menggunakan Air Asia jika Anda terbang ke Kuala Lumpur, bahkan untuk penerbangan lanjutan. 
 
Catatan bagi Anda, ketika saya bepergian ke Padang, saya adalah tidak membawa banyak barang untuk menghindari pemeriksaan barang bawaan. Saya hanya menggunakan sat utas ransel ukuran medium (jadi saya tidak menggunakan bagasi, hanya kabin saja), dan yang saya bawa hanya satu buah celana, satu topi, dua pasang pakaian dalam, satu pasang kaus kaki, dan dua kemeja untuk perjalanan selama seminggu penuh. Setiap malam saya mencuci semuanya menggunakan tangan dengan shower gel dan sabun di wastafel kamar mandi hotel.

No comments: